Random Thoughts

Rumor


Tumini mencoba menutup matanya dalam-dalam. Aroma minyak kayu putih menyeruak dalam tubuh yang berselimut itu. Bolak-balik dia condongkan badannya ke kiri dan ke kanan sambil mengatur nafasnya yang terengah. Keringat bak butiran jagung mengucur dari dahinya perlahan-lahan. Namun bukannya kepanasan, Tumini justru merasakan sebaliknya. Tumini sadar tubuhnya menghangat. Malam itu dia tak bisa tidur nyenyak. Instingnya mengatakan ada yang salah dari tubuhnya.

“Ah, mungkin hanya masuk angin biasa”, gumamnya. Besok pagi dia akan meminta bantuan Emak untuk membelikan obat masuk angin yang biasa dibelinya di warung tetangga.

Hari berganti hari, sakit Tumini tak kunjung reda. Sudah minum berbagai obat warung dan herbal racikan khusus simbah-simbah sesepuh desa, kondisi Tumini masih tak ada perubahan. Bukannya membaik justru semakin memburuk. Kini Tumini makin sulit bernafas dan sering muntah-muntah.  Tak hanya itu, tubuh Tumini dipenuhi bercak-bercak merah menonjol yang gatal. Ketika bercak itu digaruk, bercak itu mengelupas dan menimbulkan luka yang bernanah. Akibatnya tubuh Tumini menjadi semakin mengenaskan.

Para tetangga mengusulkan Tumini dibawa ke Pustu (Puskesmas Pembantu) saja. Karena hanya itulah satu-satunya fasilitas kesehatan terdekat. Pustu di dukuh Tumini adalah sebuah bangunan reyot yang nyaris ambruk akibat kondisi bangunan yang telah lapuk. Pun untuk mencapai Pustu itu butuh ratusan kilometer berjalan kaki.  Di sana hanya ada satu perawat yang bekerja, mengabdikan diri.  Pak Mantri, begitu orang-orang menyebutnya.

Pak Mantri angkat tangan begitu melihat kondisi Tumini. Alat kesehatan yang kurang  memadai tak akan membantu Tumini. Pak Mantri hanya memberikan rujukan ke rumah sakit, namun dengan kondisi Tumini yang lemah. Tumini harus diangkut dengan mobil ambulance. Pak Mantri menyuruh Tumini di rumah, sambil menunggu jemputan para medis yang datang.

 Sementara itu, kabar tentang sakit Tumini mulai beredar dari mulut ke mulut. Dari para tetangga hingga dukuh sebelah. Bergulir dari dukuh ke dukuh hingga ke pelosok desa.  Desas-desus akan penyakit aneh Tumini kian tersiar. Ada yang mengatakan Tumini terkena guna-guna, sebagian lain mengatakan Tumini terkena imbas akibat pesugihan. Rumah berlantai keramik hasil Tumini bekerja sebagai TKW di Taiwan bertahun-tahun dianggap sebagai pesugihan.  Orang-orang mulai membesar-besarkan kondisi Tumini. Orang-orang mulai percaya tubuh Tumini mengeluarkan tak hanya  nanah tapi juga belatung dan kecoak. Anak-anak kecil ditakuti oleh ibu bapaknya, jika nakal akan didatangi Tumini. Semua orang jadi takut berhubungan dengan keluarga Tumini. Keluarga Tumini makin dikucilkan para tetangga.

Tumini tentu tak mengira kedatangannya untuk mudik, menjadi petaka untuknya. Padahal baru dua hari dia menginjakan kaki di dukuhnya. Berbagai rencana Tumini untuk bersama dengan keluarga seolah sirna. Kini dia hanya berjuang sembuh dari penyakitnya. Penyakit yang tak ada obat, juga tak tahu apa.

“Mak, aku ingin mati saja”, ucap Tumini putus asa. Emak yang mendengar hanya mengurut dada. Membesarkan hati anaknya sebisanya. Pun dalam hatinya bertanya, apalah salah anaknya hingga Tumini dijauhi seperti ini.  

Padahal sejak Tumini bekerja jadi TKW, Tumini rajin mengirim uang. Hasil jerih payahnya bahkan tidak hanya untuk membantu perekonomian keluarga saja tetapi sedikit-sedikit bisa menambah kas dukuh untuk memperbaiki akses jalan menuju dukuh. Namun semua kebaikan Tumini seolah lenyap, tertutup desas-desus tak bertanggung jawab. Kini Tumini dianggap simbol kesialan dukuh.

Tenaga medis yang datang hasil rujukan Pak Mantri tak bisa apa-apa. Ketika mereka akan masuk ke dukuh,  kehadiran mereka dicegah. Warga dukuh percaya tenaga medis hanya berpura-pura dan hanya akan menjelek-jelekan dukuhnya saja. Apalagi perangkat dukuh beserta istri-istrinya ikut bersuara. Ikut serta menambah desas-desus yang kian membara.

“Sodara-sodara, jangan mau kedatangan tenaga medis. Kalau tidak ingin nama dukuh ini tercoreng.” Begitu kata Pak Dukuh berapi-api di depan warga. Warga percaya dan menolak kedatangan mereka. Pak Mantri hanya bisa mengurut dada dan menggeleng-gelengkan kepala. Kata-katanya sudah tiada artinya.

Semakin hari Tubuh Tumini tergerogoti penyakitnya. Tumini kian menderita. Hingga akhirnya, ajal Tumini tiba. Sebagian warga melepas lega, sebagian lainnya menutup mata. Tentu tak ada warga yang berani mengiringi jenazahnya. Tumini hanya diantar di peristirahatannya yang terakhir oleh Emak dan beberapa kerabatnya saja.

Beberapa bulan berselang setelah kematian Tumini, terdengar berita ada sebuah penyakit langka yang melanda. Penyakit tersebut berasal dari daratan Cina yang telah tersebar ke beberapa negara di dunia. Penyakit langka yang disebabkan oleh virus yang belum diketahui obat dan jenisnya. Penyakit yang sama seperti yang diderita Tumini.  Warga dukuh seolah lupa. Kasus Tumini sirna seperti rumor lain yang menyertainya.

Related Posts

No Comments

Leave a Reply