Ketika Orang Dewasa Membaca Buku Anak

Seorang teman pernah menertawakan saya ketika dia tahu saya membeli buku anak-anak untuk saya baca sendiri. Sebenarnya saya malas bercerita tentang buku yang saya baca kepada teman saya itu. Hanya saja situasinya saat itu, kami sedang pergi bersama. Begitu tahu saya mampir ke toko buku dan mengambil buku anak-anak, dia pun bertanya kepo. Apalagi dia tahu saya belum memiliki anak. Sehingga ketika saya jujur menjawab bahwa buku tersebut untuk saya baca sendiri, dia pun menertawakan saya. Katanya, “Udah tua kok baca bukunya seperti itu.” Haeee…!


Tentu saja saya merasa sebal dengan sang teman. Rasanya aneh saja. Pertama, apa urusannya mengomentari apa yang saya beli dan saya baca. Kedua, memang salah orang dewasa baca buku anak-anak, meskipun saya belum punya anak?

Suka-suka dong. Selain karena pilihan selera, bagi saya sih dengan membaca buku anak-anak untuk diri sendiri itu, seolah menyegarkan pikiran kembali. Kehidupan orang dewasa yang complicated dan berkutat pada rutinitas yang itu-itu saja, seringkali membuat hidup terasa jenuh. Buku anak-anaklah yang kadang membantu menyegarkan kembali. Bahkan buku anak-anak itu bisa membantu kembali apa yang sebenarnya ingin dicapai dalam hidup dengan cara yang lebih sederhana. Tidak hanya itu, buku anak juga bisa menumbuhkan kembali imajinasi-imajinasi yang terkurung karena tuntutan kehidupan. Pun bisa menumbuhkan semangat dan optimisme kembali. Selain tentunya kembali bernostalgia ke masa anak-anak. Bukankah selalu ”ada jiwa anak-anak dalam diri orang dewasa”.

Jadi, bagi saya sih tidak ada yang salah ketika orang dewasa membaca buku anak-anak. Syukur-syukur malah bisa memberikan inspirasi untuk menulis buku anak. Orang dewasa yang menyukai buku anak pun saya yakin banyak sekali, bukan hanya saya sendiri. Jadi tidak perlu heran atau menertawakan. Kalau pilihannya suka dengan jurnal ilmiah, karya klasik, dan apapun yang kelihatannya literatur yang berat ya sah-sah saja. Begitu pun dengan orang dewasa yang menyukai buku anak-anak.

 

This entry was posted in Pernik.

Leave a Reply