Multitasking atau monotasking ?

Hari ini L pulang kantor dengan wajah ceria.  Tidak seperti kemarin-kemarin, kali ini sangat sumringah.  L juga bercerita tentang keadaan kantor dan  pekerjaannya tanpa diminta.  Soalnya biasanya memang saya yang minta diceritain tentang keadaan “dunia luar”. Kenapa saya selalu minta diceritain? Pertama karena saya senang mendengarkan kisah orang lain.  Kedua, tidak seperti saya yang doyan “membeo” tipikal L  bak gong yang mengeluarkan bunyi hanya ketika ditabuh.  Alias introvert yang kadang enggan bercerita jika tak diminta. Harus ada pancingannya terlebih dahulu.  Makanya sebagai pasangan yang agresif perhatian.  Saya selalu aktif bertanya.  Tentunya lihat-lihat keadaan sih.  Kalau lagi capek banget ya, nanya bisa nanti-nanti.

L mengaku hari ini dia senang karena dia sudah mulai fokus dengan pekerjaannya.  Satu persatu pekerjaannya bisa selesai.  Begitu saya tanya, kenapa sekarang bisa dan kemarin enggak bisa fokus dan cepat selesai.  Jawaban L adalah karena saya ter-distract dengan pekerjaan lain di kantornya.   ALih-alih ingin multitasking dan menyelesaikan semua, alhasil malah tidak ada yang selesai.  Akibat semuanya dikerjakan berbarengan. Tidak fokus.

BErbeda dengan hari  ini.  Dia menceritakan bahwa dirinya mengerjakan satu-satu pekerjaan.  Tanpa ter-distract apa-apa lagi.  Alhasil pekerjaannya bisa selesai. Satu per satu.

Saya berkaca pada diri saya sendiri.  Kadang kala menjadi perempuan itu dituntut untuk multi tasking.  Namun apakah pekerjaan yang multi tasking itu benar-benar efisien.  Atau justru sebaliknya?

Bila dipikir-pikir kadang bener juga sih.  Monotasking boleh jadi bisa lebih efektif.  Selain bisa lebih fokus, pekerjaan juga bisa selesai.   Meskipun kalau kata beberapa orang-orang pekerjaan yang dihasilkan memakan waktu yang lebih lama.  Hanya saja hasilnya akan lebih baik.

Hmm…kalau teman pilih yang mana mono atau multi?

 

 

Leave a Reply