Pacuan Kuda dan Joki Cilik di Tanah Bima

Pacoa Jara atau pacuan kuda di Bima sudah menjadi acara rutin  masyarakat Bima. Di Bima, pacuan kuda bukan sekedar lomba balap kuda saja tetapi merupakan sebuah tradisi.  Tradisi yang telah berlangsung semenjak puluhan (atau bahkan ratusan?)  tahun yang lalu.  Ada hal menarik dari pacuan kuda ini, yaitu keberadaan para joki cilik yang bertarung di atas pungkur kuda.

Joki-joki cilik ini kira-kira berusia dibawah sepuluh tahun.  Dibatasi usianya karena memang kuda Sumbawa ini tergolong kuda yang posturnya agak kecil.  Namun urusan kelincahan, kuda-kuda ini jangan ditanya (ya gak mungkin juga dijawab sama kudanya kan:) ).

kuda bima

Perawakan kuda yang kecil pas untuk ditunggangi anak-anak

Jangan bayangkan joki cilik ini mengenakan peralatan pacuan kuda dengan seragam keamanan yang lengkap.  Tidak!  Mereka  menunggangi kuda nyaris tanpa peralatan yang memadai,  helm seadanya saja bahkan ada juga yang tidak memakai helm, tanpa pelana, dan tanpa alas kaki.  Hanya pakaian dan masker wajah yang dikenakan.  Menurut penduduk setempat, tidak ada kecelakaan yang berarti selama jalannya pertandingan.

jokicilik

Joki cilik

Desa Panda, Kecamatan Belo, Bima adalah arena balap pacuan kuda yang saya datangi.  Rupanya perlombaan tengah berlangsung.  Ketika kaki saya menjejak di area tersebut, hawa perlombaan kental  terasa.  Sorak sorai para penonton serta pendukung bergemuruh.   Tak kalah seru, pembawa acara berteriak antusias membawakan acara serta membakar  semangat joki yang bertanding.    Kuda-kuda Sumbawa itu hilir mudik keluar masuk arena. Joki-joki cilik terlihat gagah menunggangi kuda-kuda mereka.  Tak peduli sengatan matahari yang cukup menantang saat itu, para joki berpacu dengan kuda-kuda mereka. Dari mulai peluit nyaring dibunyikan sampai garis finish, tidak ada lagi kata untuk mudur.  Ketegangan pun mulai terasa.  Pacuan kuda sendiri berlangsung bisa beberapa hari karena terdapat babak-babak kualifikasi hingga ke final.

antusias penonton pacuan

Antusias pendukung dan penonton

Berpacu di pungkur kuda

Berpacu di pungkur kuda

Tak peduli panas, semangat joki cilik tetap menngebu

Tak peduli panas, semangat joki cilik tetap menggebu

Siapa juaranya ?

Siapa juaranya ?

Saya mendekati salah seorang joki cilik.  Sebut saja namanya Langit.  Saat itu Langit sedang menunggu giliran untuk dipanggil ke arena balap.  Usia Langit belumlah genap 6 tahun, dia belum sekolah bahkan dia masih bingung membedakan jenis kelamin atara laki-laki dan perempuan.   Di usianya yang masih sangat belia, Langit sudah akrab dengan kuda.  Baginya menjadi joki dan kuda adalah dunianya.   Joki anak-anak yang lain juga tidak berbeda dengan Langit.  Mereka telah dikenalkan dengan pacuan kuda dari semenjak masih sangat belia.

edit joki cilik

Joki cilik

Biasanya kemahiran menjadi joki didapat turun temurun.  Seorang ayah biasa menjadi tentor langsung anaknya.  Ada sebuah nilai prestisius ketika ada anak yang menjadi joki di dalam keluarga.  Apalagi apabila si joki telah andal dan kerap kali memenangkan perlombaan.

Bukan hanya prestisisus terhadap keluarga, namun pemilik kuda juga namanya ikut terangkat.   Joki memang tidak harus memiliki kuda sendiri.  Biasanya pemilik kuda dan joki ini bekerja sama.  Dalam sehari Joki cilik bisa menunggang kuda beberapa kali dengan kuda yang berbeda.

Joki cilik juga profesional. Mereka juga mendapat bayaran atas usahanya.  Bayaran pun bervariasi, ada yang puluhan ribu atau ratusan ribu.  Ditambah lagi pemilik kuda juga kadang memberikan bonus terhadap para joki cilik ini.  Bonus yang didapatkan bisa seperti motor, hewan ternak, atau tambahan uang.

Pemilik kuda sendiri tidak melulu orang yang berasal dari Bima.  Orang di luar Bima pun bisa berpartisipasi.  Kita akan mengetahui pemilik kuda bisa dari pembawa acara pacuan kuda.  Biasanya sebelum perlombaan dimulai pembawa acara akan menyebutkan secara singkat profil pemilik kuda tersebut.

Untuk menjaga keamanan jalannya pacuan kuda, pihak keamanan dalam hal ini TNI berperan menjaga.  Minimal dua orang yang turut menjaga arena tersebut.  Kata beberapa orang di sana.  Jika perlombaan berlangsung ada saja yang panas dengan hasil perlombaan.  Untuk itulah pasukan TNI berjaga.

Nah, itu tadi sekelumit cerita saya mengenai tentang pacuan kuda dan joki cilik.  Saya juga pernah menulis tentang Bima di Cerita dari Bima dan Melihat Cantikanya Tanah Bima.  Teman yang ingin membaca silahkan klik tautan tersebut ya:).

This entry was posted in Travel.

16 comments

  1. Dewa Laut Jakarta says:

    Beruntungnya Mbak Khalida bisa menyaksikan pacuan kuda di Tanah Bima secara langsung.

    Saya juga beruntung bisa mengetahui bagaimana pacuan kuda di sana melalui artikel Mbak Khalida

    • koivie3 says:

      semoga ada kesempatan ya mbak, iya sensasi deg2annya dapet karena itu anak kecil takutnya jatoh aja rasanya hehe

  2. Agung Han says:

    keren ulasannya, jadi pengin bis menyaksikan langsung
    btw saya jadi inget adegan di film tenggelamnya kapal venderwijck hehee
    salam sehat dan sukses mbak

    • koivie3 says:

      Amin, semoga ada kesempatan lihat langsung ya. Terima kasih mas, oh pas adegan pacuan kuda yah hehe. Sehat dan sukses juga ya.

  3. steven says:

    halo. saya berencana untuk berkunjung ke sumbawa akhir minggu ini. dan pengen nonton panjuan kuda cilik. boleh minta info bagaimana untuk mencari tempatnya? apakah lokasi nya jauh dari bandara sumbawa besar? kalau boleh tau, acara ini diadakan di hari apa ya?
    terima kasih banyak mbak

    • koivie3 says:

      Halo juga ini di Desa Panda, Kecamatan Belo, Bima mas. Jauh mas dari bandara sumbawa besar. Saya ke sana dari bandara Bima. Kebetulan ada event jadi akomodasi saya disiapkan. Memang setau saya agak sulit transportasi umum menuju ke sini. Salah satu cara yang paling mudah adalah rental mobil. Acara ini berlangsung tidak tentu harinya, bisa beberapa hari. Dilaksanakan menurut informasi beberapa rekan setahun 2 kali. Untuk jadwal kegiatannya saya kurang tau.

Leave a Reply