Menikmati Romantisme Masa Lalu Di Kedai Es Krim Ragusa

Secara tidak sengaja, akhirnya bisa juga menjejak ke kedai es-krim ini. Awalnya hanya mencari jalan tembusan, gak taunya ketemu deh sama kedai es krim Ragusa yang udah terkenal itu. Akhirnya saya dan suami pun mampir dan melepas dahaga di sana.

Bagi yang sering wara-wiri ke daerah Istiqlal dan sekitarnya, mungkin sudah kenal dengan kedai es krim ini. Kedainya memang tak jauh dari Istiqlal. Ragusa, kedai es krim yang boleh dikatakan salah satu tertua di Jakarta. Bagaimana tidak, kedai es krim ini telah berdiri sejak tahun 1932 dan masih eksis hingga saat ini. Meskipun pernah berganti kepemilikan dari yang sebelumnya di didrikan oleh seorang Italiano bersaudara bernama Luigie Ragusa dan Vincenzo Ragusa,namun cita rasa khas dari es krim ini tetap dipertahankan.

Sejarah lengkap kenapa kedai es krim ini berdiri bisa di cek langsung di Wikipedia ya. Singkatnya sih Ragusa brothers ini asli orang Italia, datang ke Indonesia untuk belajar jahit (keren ya orang dulu jauh-jauh dari Italia ke sini untuk belajar jahit). Habis lulus si Ragusa Brothers ini ke Bandung. Di Bandung ketemu sama orang Eropa pemilik peternakan sapi yang suka memberikan susu. Nah, karena produk susunya berlimpah, Ragusa brothers berinisiatif untuk membuatnya jadi es krim. Bak gayung bersambut, ternyata banyak yang suka danusahanya laris manis. Kemudian, lanjutlah mereka berjualan di Jakarta dan membuka kedai tersebut di Jalan Veteran, Jakarta.

DSC01412

Telah berdiri sejak 1832

DSC01411

Konon katanya, Jalan Veteran Jakarta itu, termasuk dalam jajaran kelas elite colonial Belanda. Letaknya yang tak jauh di pinggir sungai Ciliwung, jadi nilai plus kala itu. Bayanginnya zaman dulu yah, kala ciliwung airnya masih jernih, sebelas dua belas lah sama Venecia hehe. Makanya, jalan yang dulunya bernama Rijswijk ini jadi spot menarik buat para elite mener-mener and noni-noni Belanda untuk hangout. Kalo sekarang kaya daerah Kemang kali ya?

Saat menjejak masuk ke dalam kedai ini, kita akan dihadapkan pada romantisme masa lalu. Ruangan tidak terlalu besar, diisi dengan kursi dan meja rotan. Pada sisi dindingnya di letakkan berbagai macam foto hitam putih, khas sekali tempo doeloe. Beberapa piagam penghargaan juga turut di pajang di dinding. Inilah daya tarik Ragusa, dia tidak sekedar menjual es krim saja, tetapi juga suasana. Gara-gara terbawa suasana, jadi membayangkan zaman dahulu kala ketika kedai ini jadi primadona, ramai oleh noni-noni bertopi bulat yang lagi kentjan dengan menir-menir dengan kumis jamplang, kira-kira apa yang mereka bicarakan? hehe kepo mode : on.

Suasana di dalam kedai

Suasana di dalam kedai

beberapa lukisan yang menempel pada dinding

beberapa lukisan yang menempel pada dinding

Saat kami datang, untungnya sedang tidak terlalu padat, kamipun memilih kursi di paling belakang. Ketika kami duduk, seorang bapak-bapak yang berusia lanjut memberikan saya menu. Rupanya dia adalah salah satu pelayan Ragusa. Sayangnya kesan yang kami dapatkan untuk pelayanan agak kurang. Saya sempat kebingungan ketika ingin memesan kemudian ditinggal pergi oleh si Bapak. Padahal saya ingin bertanya tentang arti menunya. Untungnya, ada mas-mas yang berbicara dari balik meja saji. Katanya kalau mau pesan bilang aja ke sini. Akhirnya kami pun memesan lewat mas-mas tadi. Meskipun penjelasan masih kurang akhirnya saya pasrah dan tetap jadi memesan. Es krim Ragusa hanya menjual es krim tanpa makanan cemilan lain. Jika berminat ada penjual rujak/asinan yang “mangkal” di depan kedai ini yang bisa dipesan.

Mas2 yang menyedakan es krim

Mas2 yang menyedakan es krim

penjual rujak/asinan yang "mangkal" di depan kedai

penjual rujak/asinan yang “mangkal” di depan kedai

Saya pesan menu best seller, yaitu Spaghetti Ice Cream. Bentuknya benar seperti pilinan spagheti, kemudian ditaburi oleh kacang, coklat serta sukade (buah-buahan kering yang direndam air gula). Begitu es krim sampai di mulut, langsung terasa lumer. Lembut dan manis, sama seperti saya eaaa… Meskipun rasanya manis tetapi tetap enggak kemanisan koq. Malahan rasa yang paling kentara adalah rasa susunya.

spagheti ice cream..best seller

spagheti ice cream..best seller

Soal cita rasa,es krim Ragusa memang mempertahankan cita rasa asli. Selain itu, es krim ini terkenal dengan home made ice cream. Karena home made ice cream inilah, maka es krim di Ragusa tidak memakai pengawet. Jadi, murni memakai bahan-bahan alami seperti susu. Makanya es krim Ragusa tidak bisa bertahan lama, setelah siap saji langsung segera dilahap.

Karena saya sudah memesan Spaghetti Ice Cream, suami saya memesan Cassata Siciliana. Entah artinya apa, yang tersaji dihadapan kami adalah tekstur es krim yang lebih padat. Bentuk potongannya seperti potongan kue lapis berwarna-warni seperti hijau, coklat, putih dan pink terang, kemudian dibalut dengan kertas . Rasanya bercampur antara coklat, vanila, dan strawberry yang dipadankan dengan kue pandan.

Cassata Sicilina

Cassata Siciliana

 

Usai makan, pengunjung mulai ramai. Seorang bapak dan remaja putrinya duduk di antara kami, karena sudah tidak kebagian tempat duduk. Mereka bilang mereka dari luar Jakarta dan sengaja datang untuk mencicip Es Krim Ragusa. Karena tidak ada pendingin ruangan, suhu di dalam ruangan pun mulai panas karena kebanyakan pengunjung. Kami pun segera bergegas membayar dan segera pergi. Harga yang di banderol di kedai ini berkisar antra Rp10.000-35.000. Masih cukup terjangkau dan sangat worth it apabila diimbangi dengan pelayanan yang lebih ramah dan informatif serta perbaikan tempat menjadi lebih bersih dan tertata apik.

Alamat Ragusa:
Jln.Veteran 1 No.10 Jakarta Pusat
(021)3849123

Jam Buka:
Senin-Sabtu : 10.00-22.30
Minggu : 10.00-23.00

One comment

Leave a Reply