Mencicip Kuliner Khas Sulawesi di Festival Kuliner Serpong

Tanggal 15 Agustus hingga 7 September 2014 lalu, Summareon Mal Serpong mengadakan  Festival Kuliner Serpong yang berjudul “Sulawesi Nyamanna… Pe Sadap”.   Sejak mendapat informasi ini saya langsung menyempatkan diri untuk datang.  Pasalnya, acara ini unik banget.  Bukan apa-apa sih, saya jarang sekali menemukan informasi ada festival kuliner yang spesifik mengangkat nama kuliner Sulawesi. 

Kenapa Sulawesi ya?, usut punya usut ternyata Summarecon Mal Serpong telah rutin mengadakan festival kuliner Serpong sejak tahun 2011 lalu, dengan tema tertentu yang mengetengahkan kuliner khas nusantara.  Pada tahun 2011, SMS (Summarecon Mal Serpong) telah mengangkat  kuliner khas Bali, tahun 2012 dengan kuliner Minang sementara tahun 2013 mengangkat kuliner khas Jawa, tahun 2014 ini tibalah SMS mengangkat kuliner khas Sulawesi.

Sumber : http://www.malserpong.com

Nah, sebagai orang yang lahir, besar dan tinggal di Jakarta, saya sangat penasaran dengan makanan-makanan khas Sulawesi.  Apalagi, saya memang belum pernah ke pulau yang bentuknya mirip huruf K itu.  Jadi, hitung-hitung sembari memperkaya khasanah kuliner nusantara, tidak ada salahnya memanjakan lidah dan perut juga.

Menjelang sore hari, saya pun segera meluncur ke daerah Serpong langsung menuju, Summarecon mal Serpong.   Rutenya mudah saja, karena saya dari arah Kampung Rambutan masuk tol lewat tb simatupang keluar BSD ikuti jalan sampai pertigaan gading serpong, kemudian telusur hingga ketemu SMS.  Untuk rute menuju SMS lebih jelas bisa lihat di http://transportinfo.web.id/2014/02/02/summarecon-mall-serpong/.  Di situ lengkap dan jelas banget.

Sesampainya di sana, saya  pun tidak serta merta langsung mencicip festival kuliner tersebut, meskipun festival ini buka mulai pukul 16.00-22.00 WIB saat hari kerja dan  pukul 11.00-23.00 saat hari libur.  Akn tetapi, saya harus mengikuti rangkaian acara tersendiri, berhubung saya mendapat undangan dari pihak penyelenggara.  Diantaranya rangkaian acaranya adalah mengunjungi SDC (Summarecon Digital Centre) terlebih dahulu.  Di sana kami diberikan informasi secukupnya dengan bangunan yang nantinya akan menjadi pusat digital dan elektronik serpong ini.

Menjelang malam hari, rombongan undangan pun diantar untuk segera mencicip kuliner khas Sulawesi.  Tepat di area parkir selatan Summarecon Mal Serpong, festival kuliner serpong diadakan.   Kami pun diantar menuju ke sana.

Hal yang pertama saya rasakan ketika menginjakan kaki ke area tersebut adalah takjub.   Bukan Summarecon Mal namanya kalau mengadakan acara setengah-setengah.  Betul loh, suasana di sana benar-benar kental dengan atmosfir  khas Sulawesi.  Mulai dari pintu masuk di sambut dengan deretan rumah adat toraja yang megah.  Begitu menginjakan kaki ke dalam, suasana lebih  terasa lagi.  Tenant-tenant kuliner di desain seperti rumah adat tongkonan, para pelayannya memakai baju adat Makassar.   Tidak ketinggalan, sebuah kapal pinisi buatan  terlihat berdiri angkuh bersama tenant-tenant kuliner.  Sebuah simbol kejayaan pada masa lampau.    Amboi, rasanya saya sedang tidak berada di Serpong.

Dekorasi Rumah Toraja di Festival Kuliner Serpong

Megahnya Kapal Pinisi

Tenat di hias layaknya rumah-rumah khas Sulawesi

Baju adat Sulawesi

Suasana yang sudah Sulawesi sekali semakin kentara tatkala kita mencicip kulinernya.  Bahkan, beberapa tenant kuliner juga langsung diambil dari daerahnya.  Beberapa ragam kuliner diantaranya adalah, pisang goreng sambal roa, klappertart, sop konro karebossi, coto Makassar, mie cakalang, nasi kuning cakalang, aneka kopi toraja, makanan camilan, seperti kacang disco serta berbagai aneka makanan khas Sulawesi.  Tidak melulu khas Sulawesi, beberapa makanan dari daerah lain juga turut meramaikan suasana.   Untuk membeli makanan kami diberikan kartu yang bisa di topup  sebagai alat pembayaran, tentu saja ini sangat memudahkan pembeli.

Kuliner Khas Sulawesi

Beberapa tenant yang meramaikan Festival Kuliner Serpong

Sebagai pencinta sambal, langkah kaki saya pertama kali langsung menuju cepat ke tenant kuliner yang menjajakan sambal.  Adalah sambal roa, sebuah sambal dari ikan roa khas Gorontalo dan Manado.  Sambal ini terkenal karena kegurihannya.  Pedasnya? jangan ditanya, pasti menggoyang lidah. Pedas dan rasanya “nendang”.  Sambal Roa dinikmati bersama pisang goreng atau bubur Manado.  Bagi orang Jakarta, mungkin kedengaran aneh kalau pisang goreng di makan dengan sambal, tapi itulah kekayaan kuliner kita.  Di daerah yang berbeda, nyatanya pisang pun nikmat di sajikan dengan sambal :).

Puas mendapat pisang goreng sambal roa, saya pun segera berburu mencari makanan lain, niatan hati ingin mencoba sop konro karebossi, apa daya saya terlalu takjub melihat antrian yang mengular persis seperti antrian membeli diskonan gadget , hehe.  Sehingga saya pun urung mencicip sop konro Karebossi.  Padahal, menurut sumber yang bisa dipercaya (halah!), sop konro ini enaknya pake banget.  Duh! jadi menyesal, tak sempat mencicip ini.

Best Seller

Move on dari sop konro karebossi saya pun membeli nasi kuning cakalang, lumpia sulawesi, es durian dan jagung bakar.   Rasa-rasanya tidak ada yang tidak enak, semua makanannya rasanya enak atau enak banget.  Dari sedemikian banyaknya kuliner, juara saya tetap satu, Sambal roa, hehe.

Untuk semakin memeriahkan acara, pihak penyelenggara juga mengadakan event yang tak kalah menariknya, dari mulai lomba dan undian, show yang diadakan di panggung kecil dekat kapal pinisi, seperti tari-tarian modern Sulawesi.  Kemudian beberapa artis ibukota juga turut meramaikan acara, menyumbang beberapa lagu untuk menemani kami yang berburu makanan.  Tidak hanya itu, fireworks juga semakin menambah keindaham malam itu.  Saya pun dengan suka cita menikmati malam itu, bersama dengan suami yang datang belakangan, kami pun makan bersama.  Bodohnya saya, karena perut sudah mulai “keroncongan” serta tidak sabarnya ingin mencicipi makanan-makanan tersebut serta terlena suasana, saya sampai lupa memfoto apa yang saya makan, ooh!

Salah satu lomba yang diadakan SMS

Bagi saya, Summarecon Mal Serpong telah berhasil membawakan acara festival kuliner ini ke tengah-tengah masyarakat.  Itu terlihat dari antusiasnya para pengunjung serta antrian yang mengular di setiap tenant.

Meskipun saat ini, gempuran kuliner dari negara-negara lain menggurita, tapi cita rasa lokal tetap tidak tergantikan.  SMS juga berhasil membawakan kuliner lokal secara lebih modern tanpa kehilangan akarnya.  Modernitas tidak harus merubah siapa diri kita.

Bagi saya pribadi, ada semacam kebahagiaan kecil menikmati festifal kuliner dari daerah lain.  Festival kuliner ini secara halus mengenalkan wajah Sulawesi melalui kulinernya.  Sehingga kita pun merasa bahwa kita bersaudara, bahwa kita sebenarnya kaya.  Dari sana kita bisa belajar menghargai dan toleransi.  Bahwasanya ada setiap daerah memilki kekhasannya tersendiri.

Meskipun festival kuliner Serpong telah berakhir, setidaknya ada wawasan yang bisa saya dapat dari sana.  Saya jadi tak sabar menunggu acara festival tahun depan.

4 comments

  1. Nuru Dini Indriyani says:

    Saya tertarik dengan informasi mengenai kuliner diatas. Indonesia memang Negeri yang memiliki keanekaragaman kuliner yang memiliki ciri khas dan keunikan masing-masing.Selain itu, tulisan diatas sangat menarik untuk dipelajari yang dapat menambah wawasan kita mengenai kuliner di lndonesia. Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Explore Indonesia yang bisa anda kunjungi di Explore Indonesia

Leave a Reply