Sepotong Cerita dari Tempuling

Sebenarnya ini hanya sebuah catatan perjalanan biasa saja. Bukan cerita perjalanan wisata ataupun liburan, yang di dalamnya berisi informasi biaya, tempat makan, ataupun penginapan.  Ini kisah perjalanan saya mengunjungi bagian kecil wilayah Indonesia.  Akan tetapi, perjalanan ini mejadi perjalanan yang memorable, karena sukses membuat saya melongok-longok, norak, dan membuat saya juga berkata “Ini juga Indonesia”.

Cerita itu bermula pada tahun 2006, ketika saya yang kala itu masih kuliah di Jogja, bergabung menjadi tim survey penelitian yang dilakukan Pusat Studi Kebijakan Kependudukan UGM yang bekerja sama dengan Bank Dunia.  Singkat cerita, saya di tempatkan di beberapa daerah di Sumatra diantaranya Riau, Sumatra Utara, dan Kepulauan Riau.  Perjalanan yang cukup menyita waktu, karena memakan waktu hampir 3 bulan lamanya *gara-gara itu kuliah saya jadi molor setengah tahun*#alesanbanget=)).  Lamanya waktu tersebut, karena kami harus berganti-ganti kabupaten dalam satu bulan di masing-masing Provinsi.

Tugas pertama di bulan pertama adalah mengunjungi Provinsi Riau.  Koordinasi dengan tim dilakukan di Pekanbaru. Karena keterbatasan waktu,  kami melanjutkan lagi daerah jelajah lain diantaranya, Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, Pelalawan, dan Kota Dumai.  Untuk sekarang saya mau fokus cerita di Inhil aja deh. Yang lain diceritakan kapan-kapan saja :).

Beranjak ke Indragiri Hilir, kami menuju salah satu desa di Kecamatan Tempuling.  Karena desa tersebut ada di tengah-tengah sungai, jadilah kami menggunakan perahu yang oleh masyarakat sana disebut dengan pom-pong.  Di Sumatra ini banyak sungai segede-gede gaban, alias besar-besar, beda banget sama di Jawa.  Makanya transportasi air masih menjadi sarana transportasi yang efektif.   Akhirnya berlayarlah kami menuju desa yang dimaksud.  Sepanjang perjalanan hati saya agak was-was, takut ada buaya *buaya beneran loh ya, bukan buaya darat*. Bagaimana tidak, sungai yang kelihatan tenang ini merupakan dataran rendah yang dikelilingi oleh rawa-rawa.  Biasanya sih, buaya suka di habitat yang seperti itu.  Serem juga ngebayangin kaya yang di flm2 dilahap sama buaya….…hiyy horor. Untungnya sepanjang perjalanan ternyata aman-aman saja.

Siap Berangkaat !

Celingukan kanan kiri takut ada buaya

Lalu lintas di air juga harus ada rambunya

Sampai di Desa yang dimaksud, kami digiring *emang domba* ke rumah kepala dusun.  Disanalah kami tinggal untuk beberapa hari kedepan.  Oia dari Pak Kepala dusun ini saya dikenalkan oleh buah yang bernama Kalangkala. Buah ini buah hutan,  bentuknya seperti leci, rasanya gurih…gurih…asam gimana gitu….

Buah kalangkala. Sumber : http://dunia-abde.blogspot.com

 

Di desa yang terpencil ini, mari kita lupakan soal gadget, sinyal hape, dan sejenisnya. Di sini tak ada listrik.  Penerangan hanya dari lampu teplok.  Pepohonan masih rindang, orang bilang disini masih banyak hutan.  Blusukan keluar masuk hutan untuk bertemu penduduk jadi pengalaman tersendiri bagi saya.  Untuk pergi ke rumah satu ke rumah lainnya dibutuhkan ingatan dan mental map yang oke, karena selain jaraknya yang cukup jauh, disini gak ada orang lewat yang bisa ditanya2in.  Kalo mau nanya yah tanyalah pada rumput yang bergoyang.  Makanya bagi orang yang mental mapnya agak kacau seperti saya, lebih baik saya mengekor ke teman-saya yang lain, dan gak berminat sama sekali untuk memisahkan diri dari tim.  Entah untuk nakut-nakutin entah becanda entah beneran, kata salah satu penduduk disana sih, masih ada tuh 1, 2 ekor macan yang keliaran…errrr….

 Mengekor sajalah… Mo tanya sama siapa juga

Untuk urusan “belakang” percayakanlah hanya kepada sungai dan parit-parit yang ada disana :D.  Jadi, kalo kebelet pengen pup atau pip, larilah menuju sungai dan jangan lupa membawa sarung.  Hmm…saya lupa, mandi gak ya waktu itu *mikirkeras*.

Hari-hari selanjutnya kami isi untuk mengunjungi penduduk yang ramah, sambil melihat-lihat keadaan sekitar.  Rumah-rumah sederhana, hidup seadanya,  dan sekolah dasar yang hampir rubuh jadi catatan yang menggores hati.

  Bertemu penduduk yang ramah :)

Sekolah ? T_T

Setelah urusan selesai kami pun pulang dengan perasaan campur aduk. Senang karena bisa menjejakan kaki disana, sedih karena melihat saudara kami disana ada yang hidup tak selayaknya.

  Layaknya halte busway, kami pun menanti perahu yang lewat di haltenya :)

 Dulu blom punya blog, jadipake buku harian ajah :)

 Setelah dari desa tersebut, perjalanan ke beberapa desa di kecamatan Tempuling lainnya kami lanjutkan.  Desa-desa yang lain yang berada di daratan,  keadaannya tidak separah dengan yang ada di tengah sungai.  Mungkin karena akses yang lebih mudah.  Namun demikian, ada juga yang keadaannya serupa.

Itu tadi sedikit cerita  mengenai perjalanan saya.   Memang sih gak ada pemandangan yang wah, pasir laut yang indah, ombak bergulung,  ataupun bangunan-bangunan berarsitektur aduhai.  Tapi setidaknya dari sana saya mendapat hikmah yang luar biasa. Bersyukur karena saya bisa dilahirkan di tempat yang akses informasinya tidak sulit, sekaligus berkaca bahwa masih banyak wilayah di Indonesia yang belum menikmati akses informasi secara luas dan merata.

 

My Itchy Feet…Perjalananku yang tak terlupakan”

 

Sumber Foto : Tim GDS 2

8 comments

  1. Icoel says:

    ya ampun yaa…itulah bagian IndonesiA kita yang tak pernah diketahui sebagian besar rakyat kita terutama rakyat yang makmur di kota

  2. Indah Nuria Savitri says:

    Wooow…benar-benar wajah Indonesia yang sesungguhnya dan seringkali terlewat…teriima kasih sudah berbagi, betul-betul perjalanan yang penuh manfaat dan juga membuka mata, terutama untuk kami yang belum pernah. Thanks for joining myItchyFeet contest..serunya bertualang dan menjelajah negeri, semoga terus memberi arti…cheers…

    • koivie3 says:

      iya mak, kemanapun melangkah akan selalu ada hikmah. Trims sdh berkunjung dan juga menularkan semangat traveling :)

Leave a Reply